Membangun Generasi BBM (Berkarakter, Bahagia dan Mulia)

admin 13/06/2015 0
0
0

0
0
0

Membangun Generasi BBM (Berkarakter, Bahagia dan Mulia):

“Buat Apa Juara, Kalau Tidak Berkarakter?”

Smart Emotion Radiotalk, 11 Juni 2015 (Bp Anthony Dio Martin)

 Kata “SUKSES, CHAMPION, JUARA, WINNER adalah kata yang menyenangkan, tapi sekaligus juga bisa jadi bumerang.  Masalahnya, kata-kata itulah yang paling banyak didengung-dengungkan oleh kebanyakan orang tua dan pendidik yang cenderung ambisius, saat ini.  Dan faktanya, itulah yang terjadi. Seringkali, apa yang tidak bisa diwujudkan oleh orang tuanya, berusaha diwujudkan lewat anaknya. Anakpun jadi sarana pemenuhan obsesi orang tua. Anakpun dipaksa menjadi juara ini dan itu. Tapi, paling bahaya adalah tatkala kesuksesan ini tidak dibarengi karakter yang kuat.  Hasilnya adalah anak yang cenderung stress, depresif, negatf dan mungkin saja bunuh diri. Karena itulah, radiotalk kali ini akan bicara soal mendidik generasi yang BBM (Berkarakter, Bahagia dan Mulia).

Contoh Kasus Yang Pernah Terjadi…

  • Kasus 1: “Seorang siswa kelas III SMU, juara Olimpiade Mata Pelajaran yang top. Tetapi, punya karakter aneh. Belakangan, kelihatan anaknya makin susah bergaul. Dan punya pacar. Tapi pacarnya suka dibully hingga pernah ketahuan bahwa pacarnya banyak dibully untuk pose-pose yang tidak senonoh di HPnya. Ketika ia melanjutkan studi keluar negeri, pacarnya juga dibully untuk mengikutinya studi ke negara tempat ia akan studi. Pacarnya stress, sampai harus dikonseling”.
  • Kasus 2: “Seorang anak putri juara kelas dan banyak dapat penghargaan di sekolah. Tapi tabiat di rumahnya sangat buruk. Suka menjahati adiknya dan memaki-maki pembantu di rumah, sampai tidak ada yang tahan. Dan pernah beberapa kali mengancam kepada ibunya, “Awas kalau sampai melapor ke sekolah tentang kelakuan dirumah”. Tapi di sekolah, dia selalu tampak manis sekali. Sehingga menurut ibunya, nggak ada yang akan menyangka kalau perilaku anaknya adalah seperti itu!
  • Kasus 3: “Seorang anak SD yang suka membully adiknya sendiri dan mengancam bahwa rangking adiknya nggak boleh sampai lebih tinggi dari dirinya. Sangat ambisius. Pernah satu kali ketika ia tidak jadi ranking 1, ia mengurung dirinya di kamar berhari-hari, menangis dan tidak mau makan serta muka bête berhari-hari.

Contoh Kasus: Orang Yang Sukses, Tapi Karakternya Bermasalah?

  • Petenis Jennifer Capriati. 1990, di usia 13 tahun, sudah jadi petenis bergelar dunia. Hingga 1993, makin menanjak dan banyak medali diperolehnya. Tapi di tahun 1993 itulah problem pribadinya mulai menghantuinya. Ia ketahuan mencuri. Lalu terkena kasus narkoba. Habis itu ia tenggelam, hingga di tahun 1998 baru harus memulai lagi. 1994: berusaha bunuh diri, karena punya masalah merasa dirinya buruk rupa dan punya masalah percintaan.
  • Tonia Harding, ice skater tunggal paling kontroversial. Tahun 90 dan 91, di urutan kedua Kejuaraan Dunia kedua. Tapi ia melakukan hal tidak terpuji. Ia menyuruh suaminya melukai kaki pesaing utamanya Nancy Keerigan dan menyuruh saudaranya menyerangnya. Ia lantas ditangkap dan dilarang main skater lagi seumur hidupnya.
  • Ted Kaczynski, masuk Harvard di usia 16 tahun. Dapat PhD bidang matematika di usia 20 tahun. Jadi asisten prof di usia 25. Kebiasaan: berjam-jam latihan matematika, menghindari orang kalau ketemu, banting-banting pintu kalau orang berkumpul. Dikasih julukan: pertapa dari Harvard. Tapi apa yang ternyata terjadi? “Ted merakit bom serta meledakkan 16 bom  yang akhirnya membunuh 3 orang serta melukai 22 dan menjadi orang yang paling dicari FBI! Mendapat hukuman seumur hidup di penjara”

Generasi yang Sukses, tapi juga BBM (Berkarakter, Bahagia dan Mulia)

  • Berkarakter: ada 6 pilar karakter penting

(1) Trustworthiness (Dapat dipercaya);

(2) Bertanggung jawab (Bertanggung jawab);

(3). Menghormati (Respect);

(4) Sportif, adil (Fairness);

(5) Perhatian, peduli (Caring);

(6) Cinta tanah air

  • Bahagia: anak yang bahagia, vibrasinya positif, dan ia pun tidak butuh banyak pelarian!
  • Mulia: melakukan hal noble mulia!

Penelepon:

Bapak Setio – Jakarta

Saya punya anak umur 11 tahun, perempuan. Saya seorang entrepreneur. Saya coba mengajarkan dan pengaruhi anak saya untuk melakukan bisnis yang ringan. Sehingga sekarang dia sudah menjadi reseller selama 4 bulan dan dengan modal 400 ribu mendapatkan untung 1 juta lebih. Apakah cara saya ini salah? Karena saya tidak mau sampai mengganggu prestasi disekolahnya.

 Jawaban:

Kuncinya adalah apakah anak Bapak menikmati atau tidak? Selama anak bapak menikmati dan fun karena mendapatkan hasilnya, lakukan. Tetapi jangan lupa memberikan ketentuan atau membuat perjanjian bahwa anak harus pay attention / bertanggung jawab terhadap prestasi di sekolahnya, jika tidak maka harus berhenti. Jadi mengajarkan juga mengenai peneguhan bahwa ada tanggung jawab yang harus diutamakan.

Pak Budi

Saya terkadang mempunyai pemikiran sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik untuk anak kita, tetapi di 1 sisi juga terkadang belum bisa membuat 1 keputusan sendiri dan orang tua yang mengarahkan. Apakah kita harus menyeimbangkan dengan keinginan anak dan keinginan orang tua?

Jawaban:

Jauh lebih penting dari latar belakang kita melihat pertumbuhan anak itu, memang secara psikologis ada umur-umur dimana anak belum bisa mengambil keputusan. So, disaat itulah orang tua hrs mengambil intervensi terutama moral, karakter. Rata-rata orang tua di Indonesia mempunyai kesadaran dan kepekaan yang luar biasa tentang Karakter. Ada fase dimana orang tua harus menuntun anak, tetapi ketika anak dirasa sudah bisa diajak diskusi, tawar menawar, orang tua harus bertanya “kira-kira kamu nyaman gak menjalani ini?” disaat itulah kita ajarkan anak untuk bisa memilih apa yang dia suka dan membuat dia bahagia menjalaninya.

 

Leave A Response »