Mencari-cari Kesalahan

admin 27/07/2018 0
Mencari-cari Kesalahan

Mencari-cari Kesalahan

Oleh: Eka Wartana

Adakah bedanya: ‘mencari kesalahan’ dan ‘mencari-cari kesalahan’?

Kelihatannya hampir sama, bukan? Hanya ada tambahan kata ‘cari’. Seperti pada umumnya kita ketahui, sesuatu yang berlebihan seringkali (namun tidak selalu) bernada negative. Demikian pula dengan kelebihan kata.

Mencari-cari kesalahan jelas bersifat negative karena secara langsung menutupi kebenaran yang ada. Tetapi ‘mencari kesalahan’ bisa berarti baik. Bahasa halusnya: memeriksa (kontrol), kalau kalau ada yang salah yang kemudian dikoreksi. (Koreksi ini sepertinya berasal dari Bahasa Inggris ya: to correct.Tapi kata ‘dikorek-korek’ sudah lain lagi maknanya….).

Laporan diperiksa ulang (alias: dicari kesalahannya kalau ada) untuk memastikan isi laporannya benar. Termasuk ketika pekerjaan didelegasikan ke orang lain. Dalam hal ‘abdikasi’ tidak ada istilah ‘mencari kesalahan’ karena sesudah mengalihkan pekerjaan, terus dilupakan. (kelihatannya ini adalah trust yang nyasar, saking percayanya, control dilupakan).

Saudara Kandung

Sepertinya, mencari-cari kesalahan itu saudara kandung dari ‘mencari pembenaran’ (bukan ‘mencari kebenaran’). Apa yang dilakukan orang lain selalu salah, dan apa yang dilakukannya selalu benar.

Oh, iya, masih ada lagi saudara kandungnya yang lain: ‘Alasan’. Selalu ada ‘alasan’ untuk pembenarannya.

Saudara Tiri

Rupanya, orang yang hobi mencari-cari kesalahan bukan orang yang setia. Dia punya selingkuhan, sampai sampai punya ‘anak tiri’….. Dan, ternyata anak tirinya banyak lho!

Anak anak tirinya: unfairness (tidak fair, tidak adil, tidak seimbang), surat peringatan (yang dibuat-buat), watak iri-dengki, microscope (mencari-cari kesalahan yang sekecil apapun), hobi mencari muka (padahal dia sudah punya muka) dengan menjelekkan orang lain, kecemasan (kuatir akan dirinya), sentiment pribadi, fitnah, menyudutkan saingan (competitor baik dalam bisnis maupun profesi), klaim prestasi orang lain sebagai hasil dirinya.

Ternyata banyak sekali ya interkoneksi dari ‘mencari-cari kesalahan’ dengan berbagai hal lainnya, ya?

Bagaimana dalam politik? Adakah indikasi mencari-cari kesalahan….?

Bagaimanapun bagusnya prestasi dari lawan politiknya, tetap saja bisa dicari kekurangannya. Namanya juga politik……!

Selalu saja muncul kata:” Kenapa begini….kenapa begitu….” (Why…Why…Why…)

Sebagai manusia, kita ini jauh dari sempurna…. Daripada mencari-cari kesalahan orang lain, kenapa kita tidak mencari-cari peluang lain dengan cara yang benar….?

Why dan Why Not

Daripada selalu bertanya “Why”, kenapa kita tidak mulai dengan “Why not”?

Dalam management, kata “Why” lebih bernada mengadili melalui bertanya. “Why not” mengarahakan kita kepada inspirasi, idea dan kreatifitas.

“Why” mengarah kepada yang masa lalu. “Why not” mengarah kepada masa depan.

“Why” menjurus kepada pertanggung-jawaban . “Why not” lebih kearah pembimbingan.

“Why” mengajarkan orang untuk mencari sebab dan alasan “Why not” focus pada pengembangan orang (Development).

Daripada bertanya:”Kenapa (Why) kamu tidak menjalankan instruksi saya”, lebih baik bertanya:”Kenapa tidak (Why not) kamu jelaskan hambatan yang kamu hadapi untuk melaksanakan perintah saya?”

Ini contoh Why not yang kesasar:

Istri kepada suaminya: “Kenapa kamu cari istri lagi?” (Why). “Kenapa tidak selingkuh  aja…?” (Why not). Loh kok…….?!? Just kidding…….

Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, adalah orang yang paling tidak suka disorot kesalahannya” (The MindWeb Way)

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS International) with 33 yrs of managerial experience.

Founder The MindWeb Way of Thinking

Author Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking (English Edition), MindWeb (Indonesia & English Edition).

Training needs: eka.wartana@mindwebway.com, WA 081281811999

Book needs: WA 081281811999, Amazon.com, getscoop.com (ebook)

#berpikirtanpamikir #tothinkwithoutthinking #mindwebway #ekawartana #trainer #mindwebwayofthinking #why #whynot #mencaricarikesalahan #mencarikesalahan #fairness #saudarakandung #saudaratiri #delegasi #abdikasi #alasan

Leave A Response »