Menuju Equilibrium

admin 02/11/2018 0
Menuju Equilibrium
1
0

2
0
0

Menuju Equilibrium

Oleh: Eka Wartana

Kapal induk Rusia tertimpa crane di galangan kapal Murmansk, Rusia. Kecelakaan itu  terjadi karena hilangnya keseimbangan (equilibrium). Crane-nya sendiri tidak masalah tapi tempat berpijaknya, dermaga apung, yang tenggelam. Equilibrium dermaga apungnya yang terganggu.

Semua orang sadar bahwa tidak ada sesuatu yang permanen, kecuali perubahan itu sendiri, seperti kata Heraclitus.

Tetapi banyak orang tidak sadar bahwa perubahan itu seringkali kembali ke titik awal. Gak percaya…..?

Yuk kita lihat seorang bayi yang tidak bisa apa apa, giginya ompong, suka mengompol. Si bayi berubah menjadi anak, kemudian dewasa. Dia mengisi kehidupannya dengan berbagai aktifitas. Ketika sudah renta, dia tidak mampu berbuat apa apa lagi. Giginya ompong, dan mengompol. Seperti itulah siklus kehidupan…..

Sebuah bandul yang bergerak ke kiri dan ke kanan akan melambat sampai akhirnya berhenti. Gaya gravitasi yang menghentikannya menuju ke titik keseimbangan.

Seorang pria sangat bahagia karena berhasil menggaet seorang gadis pujaanya. Pacarnya begitu cantik di matanya. Eh, lama kelamaan, pacarnya terlihat biasa. Gairahnya yang begitu tinggi ketika berusaha menggaet sang pacar, akhirnya kembali ke titik netral, sama seperti ketika dia belum mengenal sang pacar. Dia kembali ke titik equilibrium…..

Masih banyak lagi contoh contoh lainnya di dalam kehidupan kita ini. Mau lanjut?

Seseorang yang marah besar, akhirnya akan tenang kembali. Emosi dan rasionya kembali ke titik equilibrium, seimbang. Kembalinya ke titik equilibrium seringkali dibarengi dengan kerugian dan penyesalan.

Orang yang sangat terpukul karena kehilangan orang yang dicintainya, sejalan dengan waktu akan kembali ke kondisi netralnya. Dia kembali ke titik equilibriumnya.

Orang yang sangat lapar akan merasakan kenikmatan besar pada lahapan pertamanya. Kenikmatannyapun berkurang pada suapan suapan berikutnya. Kondisinya sama dengan saat dia tidak lapar.

Koruptor? Sama saja. Pada awalnya menerima suap puluhan juta sudah membuat dia senang. Semakin lama nilai suap yang diterimanya termakan “inflasi keserakahan”. Dia mau yang lebih besar dan lebih besar, mencari titik keseimbangan baru yang tak pernah ada. Pada akhirnya si koruptor akan mencapai juga equilibriumnya, tapi di penjara. Dari posisi penuh kekuasaan, kembali ke posisi tanpa kuasa dan putus asa.

Koruptor pemula menerima uang suapnya dengan deg-degan. Setelah terbiasa, dia menerimanya sambil makan degan (kelapa muda).

Betapa senangnya karyawan yang baru menerima kenaikan gaji. Setelah berjalan beberapa bulan dia sudah terbiasa dengan gaji barunya dan kegembiraannyapun sirna. Dia kembali ke titik awal, equilibrium: merasa biasa saja. Kenaikan biaya hidup plus perubahan gaya hidup mendorongnya ke arah equilibrium baru: hidup berkekurangan.

Ada lagi situasi yang mengubah situasi dengan drastis. Karyawan senang menerima kenaikan gajinya. Tapi begitu dia tahu kenaikan gaji koleganya lebih tinggi, kegembiraannya langsung lenyap berganti kekecewaan. Dia mencapai equilibrium yang minus.

Bahkan tsunami yang dahsyatpun akhirnya akan mereda dan surut kembali, seperti ketika keadaan semula. Yang berbeda: akibatnya, banyak korban yang meninggal, rumah hancur.

Belajar dari tsunami ini, kita melihat besarnya dampak tergantung dari amplitudo-nya (arah terjauh dari titik keseimbangan). Orang yang sangat amat marah karena cemburu dengan istrinya, bisa saja menyakiti bahkan membunuh istri dan selingkuhannya sekaligus. Amarahnya akan reda, namun akibatnya masih tersisa.

Kesimpulannya: Semakin tinggi ketidakseimbangan yang kita ciptakan, akan semakin besar risiko yang dihadapi.

Equilibrium itu Statis?

Apakah itu berarti bahwa equilibrium itu mengajak kita untuk statis saja? Tentu tidak. Kita bisa mencapai equilibrium yang lebih baik (lebih tinggi) dengan menyiapkan pondasi yang kuat terlebih dahulu. Misalnya, ketika penghasilan meningkat, kita perlu mengendalikan diri supaya tidak tergoda untuk boros. Dengan kendali diri itulah kita mencapai equilibrium yang lebih tinggi lagi. Demikian seterusnya sehingga hasil yang dicapai sudah cukup tinggi untuk mulai dinikmati. Menikmati tanpa lupa diri, bersedekah tetap tahu diri……

Saran:

  • Kendalikan emosi ketika senang ataupun susah. Hindari menggoncang equilibrium sendiri, tanpa peningkatan statusnya.
  • Nikmati kebahagiaan dan kesenangan yang kita alami, namun tanpa berlebihan.
  • Tetap bersyukur kepada Tuhan ketika menghadapi kesenangan ataupun kesusahan. Tidak ada yang abadi. Apa yang dimulai akan berakhir. Seperti halnya kesenangan, semua kesusahan juga akan berakhir…….

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS International) with 33 yrs of managerial experience.

Founder The MindWeb Way of Thinking

Author Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking (English Edition), MindWeb (Indonesia & English Edition).

Training needs: eka.wartana@mindwebway.com, WA 081281811999

Book needs: WA 081281811999, Amazon.com, getscoop.com (ebook)

 

#berpikirtanpamikir #tothinkwithoutthinking #mindwebway #ekawartana #trainer #mindwebwayofthinking #equilibrium #titikkeseimbangan #perubahan #tsunami #

 

Leave A Response »