Dendam dan Pamrih

admin 14/05/2019 0
Dendam dan Pamrih
1
0

0
0
0

Dendam dan Pamrih

Oleh: Eka Wartana

 

Sekilas sepertinya tidak ada hubungannya antara dendam dan pamrih. Tapi ternyata ada interkoneksi antara dendam dan pamrih. Ada beberapa hal menarik tentang kedua hal ini.

Balas Dendam

  • Balas dendam dilakukan untuk membalas perlakuan buruk dari orang lain.
  • Balas dendam timbul karena rasa tidak senang, sakit hati dan semua hal hal negative yang dirasakan seseorang akibat perbuatan orang lain.
  • Seringkali pembalasannya lebih kejam dari perlakuan yang diterimanya.

Pamrih

  • Pamrih berlaku untuk hal hal baik yang dibuat seseorang terhadap orang lain dan dia mengharapkan orang itu membalas kebaikannya.
  • Ada ‘topeng’ dibalik kebaikan yang dilakukannya. Dia tidak ikhlas.
  • Balasan yang diharapkannya tidak selalu berupa materi bisa juga berupa ‘nama’ baik, supaya disorot orang. Jadi ingat polah para oknum politisi, yang pada setiap bencana alam. Mereka terlihat sibuk sekali membantu para korban bencana tapi tak lupa memajang puluhan bendera partainya.

Persamaan dan Perbedaannya

Dalam hal dendam, orang itu yang melakukan pembalasan. Dalam hal pamrih, orang itu mengharapkan orang lain yang membalas “kebaikan”nya. Dasarnya sama: pembalasan.

Perbedaannya, yang satu menyangkut hal yang buruk, yang satunya hal yang baik.

Ada lagi yang menarik dalam hal dendam dan pamrih ini.

  • Kelihatannya, orang yang suka mendendam adalah orang yang suka pamrih terhadap apa yang dilakukannya.
  • Keduanya tergolong orang yang egois dan munafik.

Benarkah demikian?

Ringkasnya:

Keinginan si pendendam: yang buruk untuk orang lain, yang baik untuk dirinya.

Hal yang terabaikan

Orang yang melakukan balas dendam itu lupa bahwa dia sudah bertindak salah:

  • Dia bertindak seakan dirinya itu hakim yang berhak menjatuhkan hukuman kepada orang lain, tanpa proses hukum.
  • Dia bertindak seakan dirinya itu Tuhan yang berhak menghukum orang yang dianggapnya berdosa. Dia lupa bahwa Tuhan-lah yang berhak menentukan hukuman bagi manusia yang berbuat salah.

Hal ini mirip dengan sikap iri hati yang sebenarnya sama dengan menggugat Tuhan. Di satu sisi dia percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil, di sisi lain dia iri terhadap orang lain yang secara tidak langsung menggugat bahwa Tuhan lebih sayang kepada orang lain.

Mereka lupa bahwa:

“Hindari dendam dan pamrih karena:

DENDAM hanya akan menambah dosa,

PAMRIH hanya akan mengurangi pahala

(The MindWeb Way)

Dendam dan Pamrih itu memiliki dasar yang sama: MEMBALAS.

Tetapi, Dendam dan Pamrih memiliki NIAT yang berbeda.

Dendam: keburukan untuk orang lain, Pamrih: kebaikan untuk diri sendiri.

Idealnya: hidup tanpa dendam dan tanpa pamrih

(The MindWeb Way)

 

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS Int) dengan 33 thn pengalaman managerial.

Founder: The MindWeb Way of Thinking, To Think Without Thinking

Author: To Think Without Thinking (English Edition), Berpikir Tanpa Mikir (Indonesian Edition), MindWeb- A New Way of Thinking (English dan Indonesian)

 

Website: www.mindwebway.com, FB: www.facebook.com/eka.wartana.5

IG: www.instagram.com/eka.wartana/

Training, Book Order: eka.wartana@mindwebway.com

#tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #mindwebway #mindweb #ekawartana #dendam #pamrih #iri #menggugattuhan #pahala #dosa #pembalasan #egois #munafik #ikhlas

 

Leave A Response »