Jujur Tak Selalu Mujur

admin 13/06/2019 0
Jujur Tak Selalu Mujur
1
0

0
0
0

Jujur Tak Selalu Mujur

Oleh: Eka Wartana

 

Kejujuran adalah nilai kehidupan yang tinggi. Sayangnya, kejujuran seringkali berdampak buruk bagi orangnya.

Faktor-faktor yang memengaruhi: bagaimana, waktu (kapan), dan kepada siapa.

Rahasianya: kejujuran perlu bersahabat dengan kecerdasan emosional” (The MindWeb Way)

Seorang pria berkunjung ke seorang pelanggan baru. Ternyata sekretaris pelanggannya itu cantik sekali.

Dia sangat suka kepada si sekretaris itu. Diapun rajin berkunjung ke pelanggan itu dengan tujuan prospecting,

untuk perusahaan sekaligus untuk dirinya sendiri.

Apa yang akan terjadi sekiranya pria itu bercerita dengan jujur kepada istrinya tentang jatuh cintanya pada si sekretaris?

Bisa babak belur dia! Ini adalah salah satu contoh kejujuran yang berdampak buruk. (Itu entah jujur entah bodoh, ya….?

Bodoh karena mengakui perselingkuhannya atau bodoh karena begitu mudah jatuh cinta…)

 

Adakah caranya bagi pria itu supaya tetap jujur, tapi tidak berdampak buruk bagi dirinya? Ya, adalah….:

Jangan jatuh hati kepada si sekretaris! (kalau dia jatuh hati dengan wanita lain, itu ceritanya lain lagi…..ha ha ha).

 

Beberapa factor yang memengaruhi dampak dari kejujuran: siapa. bagaimana, kapan.

Nah, untuk mengelola dampak dari kejujuran, kita memerlukan kecerdasan emosional (EI: Emotional Intelligence atau EQ: Emotional Quotient).

Dengan kecerdasan emosional kita bisa mengenal orang lain dan diri sendiri dengan lebih baik.

Siapa

Lawan bicara kita bisa beragam. Ada yang baper (bawa perasaan), ada yang balog (bawa logika, lawan dari baper).

Ada yang suka blak-blakan, ada yang suka kepura-puraan. Ada yang suka caper (cari perhatian),

ada yang suka maper (malu kalau diperhatikan).

Ada yang kuper (kurang pergaulan), ada yang gesper (gemar sekali pergaulan), atau eksper (ekses pergaulan)

 

Jadi, kita perlu mengetahui kepada siapa kita bisa berbicara dengan jujur, kepada siapa kita memerlukan ‘diplomasi’.

 

Bagaimana

Dengan mengetahui “Siapa” nya, kita bisa menyesuaikan “Bagaimana”nya kita berbicara tentang kejujuran.

Orang baper tidak suka dengan orang yang berbicara blak-blakan, walaupun yang diucapkannya adalah kejujuran.

Secara tidak sadar, mereka lebih suka dibohongi daripada “dijujuri” (Adakah istilah ini? He he).

Emosinya lebih dominan daripada rasionya.

Sebaliknya, orang balog (bawa logika) tidak suka orang berbicara muter muter….pusing dia nanti!

Langsung ‘to the point’ aja. Tidak suka dia dengan basa basi. (perasaannya sudah kebal ataukah bebal?)

Nah, lumayan banyak juga orang yang berada diantara keduanya, baper dan balog.

Untuk itu kiranya yang paling pas adalah dengan cara diplomasi.

Misalnya, orang yang rambutnya sudah banyak yang putih, dikatakan semakin berwibawa (bukan semakin tua).

Orang yang semakin gemuk dikatakan semakin makmur. Dengan begitu kita memakai cara yang jujur, hasilnya manjur dan mengarah ke situasi yang mujur…..

 

Waktu (Kapan)

Reaksi orang terhadap kejujuran seringkali dipengaruhi oleh timing (waktunya), kapan kejujuran itu disampaikan.

Berkata jujur kepada orang yang sedang letih akan mengundang emosi marahnya. Masalah kecil bisa membesar.

Tapi ketika dia happy, masalah besar bisa menyusut.

Trick seperti ini bisa dipakai dalam pekerjaan.

Kalau terjadi masalah dalam pekerjaan, saya mencari tahu dulu dari sekretarisnya, bagaimana ‘mood’ atasan.

Ketika ‘bad mood’ saya tunda dulu membicarakan masalah tersebut.

Niatnya tetap jujur, mau melapor tapi mencari waktu yang pas.

Ketika ‘mood’ nya lagi bagus, biasanya masalah tidaklah terlalu bermasalah.

 

Reaksi atas kejujuran seringkali dipengaruhi oleh kapan kejujuran itu disampaikan.

Jangan sampai menyampaikan kejujuran kepada orang yang salah, dengan cara yang salah, pada waktu yang salah!

 

“Kebenaran tidak selalu perlu diungkapkan, tapi tetap harus dibela”

(The MindWeb Way)

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS Int) dengan 33 thn pengalaman managerial.

Founder: The MindWeb Way of Thinking, To Think Without Thinking

Author: To Think Without Thinking (English Edition), Berpikir Tanpa Mikir (Indonesian Edition), MindWeb- A New Way of Thinking (English dan Indonesian)

 

Website: www.mindwebway.com, FB: www.facebook.com/eka.wartana.5

IG: www.instagram.com/eka.wartana/

 

Training, Book Order: eka.wartana@mindwebway.com

 

#tothinkwithoutthinking #berpikirtanpamikir #tanpamikir #themindwebway #mindweb #ekawartana #training #trainer #jujur #kejujurn #baper #balog #emosi #logika #siapa #bagaimana #kapan #timing #dampak #kecerdasanemosional #EQ #IQ #EI

 

Leave A Response »