Bebas tapi di Penjara

admin 23/01/2020 0
Bebas tapi di Penjara

Bebas Tapi di Penjara

Oleh: Eka Wartana

Kebanyakan orang ingin bebas, tidak terkekang oleh aturan, oleh orang lain atapun oleh keadaan dan terbebas dari masalah. Itu yang ada di dalam pikiran sadarnya.

Yang sangat sering terjadi, malah sebaliknya. Mereka sendiri yang menyandera kebebasannya sendiri, menempatkan dirinya sendiri di dalam penjara kehidupan. Tanpa sadar mereka begitu mudah dikendalikan oleh sikap dan pendapat orang lain, oleh keadaan yang dihadapinya.

Mereka menyerahkan kendali atas dirinya kepada hal hal di luar dirinya. Mereka melepas nasibnya pada reaksi terhadap factor luar, bukan pada inisiatifnya sendiri. Mereka membiarkan emosi mendominasi dengan melupakan logikanya.

Orang itu cenderung untuk memojokkan dirinya sendiri, tanpa disadarinya. Contohnya, ketika pesan WA-nya tidak dibalas, dia merasa tidak dihargai. Padahal, orang lain sedang bermasalah dengan HP-nya, atau sedang sangat sibuk sehingga tidak sempat membaca pesan pesan yang masuk.

Ketika melihat orang lain lebih sukses, dia merasa diperlakukan tidak adil oleh nasibnya, bahkan oleh Tuhan. Padahal orang lain sukses karena berusaha keras dan rajin mencari peluang. Sedangkan dia hanya bermalas-malasan.

Ketika menghadapi masalah, mereka kesal, marah, menyalahkan semua orang kecuali dirinya.

Kebanyakan dari mereka itu tidak sadar bahwa mereka berada di bawah kendali emosinya. Dalam keadaan sadar, emosi dan logikanya seimbang. Dalam keadaan sadar mereka menginginkan kebebasan: kebebasan berekspresi, kebebasan berbicara, bertindak.

Tetapi ketika emosinya berkuasa, maka tanpa disadarinya, mereka menempatkan dirinya dalam kurungan yang diciptakannya sendiri. Mereka dikendalikan oleh factor luar dari dirinya. Inilah sumber stress yang menghambat prestasi, hubungan baik dan kenyamanan hidup.

Keseimbangan emosi dan logika sangat diperlukan supaya kita tetap berada di alam kebebasan. Dan keseimbangan bisa dicapai dengan melihat segala sesuatunya secara proporsional dari sisi pikiran dan perasaan.

Untuk mampu mengendalikan emosi, kita memerlukan kecerdasan emosional: mengerti emosi sendiri dan emosi orang lain. Merdeka!

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS International) with 33 yrs of managerial experience.

Founder The MindWeb Way of Thinking

Author Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking (English Edition), MindWeb (Indonesian & English Edition).

Training needs: eka.wartana@mindwebway.com, WA 081281811999

Book needs: WA 081281811999, Amazon.com, getscoop.com (ebook)

 

#berpikirtanpamikir #tothinkwithoutthinking #mindwebway #ekawartana #trainer #mindwebwayofthinking  #emosi  #bebas  #penjara  #kecerdasanemosional  #logika  #kendalidiri

 

Leave A Response »