Mem-bypass Atasan

admin 04/02/2020 0
Mem-bypass Atasan
1
0

0
0
0

Mem-Bypass Atasan

Oleh: Eka Wartana

Orang yang pembuluh darahnya mengalami penyumbatan akan menjalani operasi bypass jantung. Tujuannya: untuk menyelamatkan nyawanya.

Bypass bukan hanya terjadi pada tubuh manusia, tapi juga di organisasi/ perusahaan. Ada saja karyawan yang hobi mem-bypass atasan langsungnya ke atasan yang lebih tinggi. Hal ini bisa terjadi karena:

  1. Atasannya (dianggap) tidak kompeten. Dia tidak sabar lagi melihat cara kerjanya.
  2. Dia merasa atasannya terlalu menekan dia. Dia tidak tahan lagi.
  3. Dia ingin mendapat perhatian dari hierarchy lebih tinggi (atasan dari atasan langsungnya), untuk memudahkan peningkatan kariernya.(mau lewat jalan toll).

 

Apapun alasannya, si karyawan sudah melanggar etika organisasi. “Main belakang” seperti itu tidak sehat untuk perusahaan. Yang jelas,cara itu juga tidak fair.

Biasanya orang yang suka mem-bypass atasannya memiliki karakter yang kurang baik, ingin melalui cara mudah, cepat walau tidak fair,  dan tidak peduli dengan akibatnya bagi orang lain.

 

Saya pernah mempunyai seorang atasan yang dianggap kurang mampu oleh beberapa kolega saya. Si atasan menjadi bahan gossip karena kerjanya santai sekali. Nah, saya sendiri melihat itu dari sisi yang lain: kesempatan untuk pembuktian diri. Saya buat program program kerja yang sebagian besar disetujuinya. Secara tidak langsung saya mengambil alih kendali, dengan sepengetahuannya tapi tanpa disadarinya. Jadi, tidak ada ruginya, bukan? Tetaplah mendukung atasan, tanpa perlu menjilat ataupun mengadilinya.

 

Terlalu menekan? Terlalu banyak memberi beban kerja? Saya sendiri tidak pernah merasa tertekan walaupun beban kerja memang tinggi. Beban kerja tinggi sebetulnya banyak manfaatnya: memberikan kesempatan: mencari proses kerja baru  yang lebih efisien, kesempatan melatih bawahan melalui delegasi, dan yang sering tidak dilihat orang: meningkatkan ketangguhan kita menghadapi situasi sulit (AQ, Adversity Quotient).

 

Sayang sekali kesempatan baik itu terlewatkan oleh banyak karyawan akibat dari baper (bawa perasaan) dan salah persepsi. Beban kerja akan terasa lebih berat daripada realitanya. Keluhan itu penghambat karier. Lebih baik berpeluh daripada mengeluh.

 

Kalau ada hal hal yang dirasa kurang beres, sebaiknya didiskusikan langsung dengan atasan. Tentunya dengan tetap menjaga sopan santun, namun juga tetap assertive (menyampaikan hal hal yang dipikirkan dan dirasakan).

 

Point ke 3 ini yang menarik, ingin cepat promosi. Dia sering komunikasi dengan atasan dari atasannya. Suka memberi laporan laporan kepada atasan dari atasannya. Suka menunjukkan prestasi hebatnya. Dan semuanya itu tanpa sepengetahuan atasan langsungnya. Cara ini yang merusak suasana kerja di perusahaan.

 

Memang sih ada peraturan perusahaan yang membenarkan karyawan untuk membawa kasus yang tidak selesai dengan atasan langsungnya ke atasan yang lebih tinggi. Tapi itu semua selayaknya dengan sepengetahuan atasannya.

 

Katakanlah sikap atasan itu dianggap tidak fair dan perlu diadukan kepada atasan yang lebih tinggi. Si karyawan bisa saja menulis ke atasan langsungnya dengan copy ke atasan yang lebih tinggi.(bukan blank copy yang tidak dilihat oleh atasan langsung).  Jadi tidak “main belakang”.

 

Bagaimana kalau terjadi sebaliknya, di mana atasan dari atasan yang memberi instruksi atau memanggil karyawan, mem-bypass atasannya? Hal seperti ini bisa terjadi dan saya sendiri mengalaminya. Cukup sering saya dipanggil langsung oleh President Director yang juga owner perusahaan ke ruangan beliau, melangkahi atasan langsung saya yang expatriate dan atasannya lagi. Yang dibicarakan, semuanya mengenai kasus kasus penting di perusahaan.

 

Dalam situasi seperti itu, haruskah saya menolak instruksi/ panggilannya? Tentunya kita tidak bisa menolak. Tapi setelah itu kita harus melapor ke atasan langsung dan update beliau tentang hal hal yang dibicarakan. Dengan demikian kepercayaan (trust) akan terjaga.

 

Jadi, apa bedanya bypass jantung dengan bypass atasan? Bypass jantung bertujuan untuk menyelamatkan nyawa orang, sedangkan bypass atasan untuk menyelamatkan ego sendiri yang bisa saja menghambat posisi orang lain.

 

Sama sama bypass, tapi tujuan dan akibatnya berbeda, bukan?

Ayo kita selalu jaga etika berorganisasi supaya tujuan perusahaan dan karyawan bisa tercapai dengan baik…….

 

Salam Berpikir Tanpa Mikir,

Eka Wartana

Professional Licensed Trainer (MWS International) with 33 yrs of managerial experience.

Founder, Master Trainer, The MindWeb Way of Thinking

 

Author Berpikir Tanpa Mikir, To Think Without Thinking (English Edition), MindWeb (Indonesia & English Edition).

Training needs: eka.wartana@mindwebway.com, WA 081281811999

Book needs: WA 081281811999, Amazon.com, getscoop.com (ebook)

 

#berpikirtanpamikir #tothinkwithoutthinking #mindwebway #ekawartana #trainer #mindwebwayofthinking  #etika #bypass  #atasan #masalah #karier  #kesempatan  #adversityquotient #mainbelakang

 

Leave A Response »