Bagaimana Mencegah Osteoporosis?

admin 19/06/2014 0
0
0

0
0
0

BAGAIMANA MECEGAH TULANG KITA AGAR TIDAK SAMPAI OSTEOPOROSIS?
Dr Handrawan Nadesul

Minggu lalu ada 3 orang yang minta saya mengupas soal tulang, DBD, dan penyakit autoimmune. Kali ini saya akan mulai dengan membicarakan soal tulang dulu.

Bahwa tulang belulang tubuh kita sudah dibentuk sejak masih dalam kandungan mula. Berarti fondasi pembentukan tulang sudah dimulai dari ketika anak bergantung pada apa yang ibu makan. Tak sebatas sampai di situ. Anak membangun fondasi tulangnya sampai berumur 12 tahun. Bahan baku pembentukan fondasi tulang terbesardiperoleh dari zat kapur atau calcium. Berarti anak tidak boleh sampai kekurangan calcium dalam 12 tahun pertama kehidupannya. Tak ada kesempatan kedua untuk mengulangi pembentukan fondasi tulang. Maka harus dicukupi selama kurun itu. Susu merupakan sumber calcium tertinggi selain terbaik karena diserap lebih utuh dibaning sumber calcium lain.

Kalau fondasi tulang dibangun tidak sempurna, maka sejak awal kualitas tulang sudah kurang normal. Tulang demikian yang lebih cepat menipis dan lalu keropos. Kita menyebutnya osteoporosis.
Tahunya kalau tulang sudah dalam kondisi keropos bisa diperiksa kepadatan tulang (bone densitometry), selain dengan pemeriksaan darah.

Celakanya, kondisi tulang yang sudah lebih tipis dari normal, nyaris tanpa keluhan dan gejala apa pun. Tahu-tahu terjadi patah tulang. Patah tulang oleh trauma (jejas) yang ringan saja pun, saking sudah tipisnya tulang, bisa terjadi. Kita menyebutnya sebagai patah tulang patologik (pathological fracture). Kesenggol bajaj saja tulang patah, atau terjatuh sederhana saja tulang patah. Artinya tulangnya memang sudah keropos.

Tulang keropos bisa di bagian tulang tubuh mana saja, sering di tulang paha, selain ruas tulang belakang. Risiko terberat bila terjadi di ruas tulang belakang, karena yang terjadi di situ ialah patah tulang kompresi. Ruas tulang saling baku menindih, lalu melesak satu sama lain. Pada kejadian demikian, saraf di sekitar ruas tulang belakang yang terkena itu akan terjepit, dan berakibat kelumpuhan.

Makin awal diketahui osteoporosis, makin terbuka harapan untuk mencegah kejadian patah tulang, atau kerusakan tulang yang biasanya tak terpulihkan. Itu maka penting memeriksa kepadatan tulang, terutama bagi yang berisiko kena. Orang Indonesia asupan calciumnya rata-rata kurang dibanding orang Barat, karena sudah berhenti minum susu sebelum usia balita. Selain susu, sumber calcium datang dari ikan teri, bengkuang, dan sayuran.
Kalau sudah telanjur keropos, tambahan suplemen calcium saja tidak cukup. Perlu obat-obatan penguat tulang (golongan biphosphonate) selain beberapa jenis hormon untuk formasi tulang.

Kita tahu sepanjang hayat, tulang selalu dalam proses remodelling (bone remodelling), antara penyerapan dan pembentukan yang dalam keadaan seimbang. Ketidakseimbangan proses remodelling yang akan mempercepat terbentuknya pengeroposan tulang. Hadirnya hormon reproduksi melindungi kekokohan tulang, maka untuk menguatkan tulang dipertimbangkan sulih hormon juga (hormone replacement) bagi yang sudah berumur lanjut.
Jadi terapi osteoporosis bukan cuma menambah calcium, melainkan juga menambah obat penguat serta untuk formasi tulang, selaintambahan hormon.

Soal calcium sendiri terbaik memang dari susu selain dari tablet calcium (anorganik). Namun karena calcium susu bersifat organik, maka penyerapannya lebih sempurna dibanding calcium anorganik dalam tablet. Terlebih pada usia lanjut. Makin tua, makin buruk penyerapan calciumnya. Barangkali kurang dari separuh dosis tablet calcium yang berhasil diserap usus orang usia lanjut.

Tak cukup hanya asupan calcium yang memadai, untuk metabolisme calcium, tubuh perlu rutin bergerak. Butuh gerak badan yang moderate dan memikul badan (weigh bearing activities), yakni berjalan kaki atau jogging, bukan berenang, atau bersepeda.

Tak cukup asupan calcium, berjalan kaki atau jogging, lebih dari itu badan juga perlu terpapar cahaya matahari pagi sebelum pukul 10.00, selain perlu kecukupan vitamin D juga untuk melancarkan metabolisme calcium.
Oleh karena kalau sudah telanjur osteoporosis, mengatasinya lebih rumit, jauh lebih sederhana kalau kita berupaya untuk mencegah agar osteoporosis tidak harus terjadi. Caranya: bangun fondasi tulang agar terbentuk sempurna sebelum anak berumur 12 tahun. Lalu cukupkan asupan calcium dari sumber makanan alami, kita bisa memilih ikan teri, lalu rutin berjalan kaki, sedikitnya 15 menit terpapar cahaya matahari pagi, serta mendapatkan cukup vitamin D dari ikan juga selain mentega. (Note: Tulang yang saya maksud di sini bukan “tulang” seturut kata orang Tapanuli. Sebab kalau itu maksudnya, saya tidak berani membanting tulang, nanti tulang marah kalau sering dibanting-banting. Salam sehat.

Leave A Response »